KATA PENGANTAR
Dalam
rangka melaksanakan tujuan instruknasional yang buat dalam bentuk kurikulum,
maka Drs. H. Daryanto menyusun buku Evaluasi Pendidikan untuk mahasiswa
kependidikan dan paktisi kependidikan. Materi buku yang ditulis Drs. H.
Daryanto telah disesuaikan dengan silabus kurikulum dengan tujuan agar
mahasisiwa memahami berbagai teknik dan jenis evaluasi pendidikan, sehingga
mereka mampu dan terampil dalam
pelaksanaannya.
Buku ini menyajikan
pembahasan tentang evaluasi pendidikan yang telah disesuaikan dengan silabus
kurikulum, yakni konsep dasar evaluasi pendidikan, klasifikasi tujuan
instruksional, teknik evaluasi, pengukuran ranah kognitif, efektif, dan
psikomotor dalam pendidikan agama Islam, prosedur pelaksanaan evaluasi,
analisis butir-butir instrumen evaluasi, dan interpretasi nilai evaluasi.
Drs.
H. Daryanto berharap semoga buku ini menjadi teman dekat para guru, khususnya
dalam melaksakan evaluasi didalam kelas. Mudah-mudahan buku Evaluasi Pendidikan
dapat menjadi tempat bertanya dan menemukan jawaban dalam ha-hal yang menyankut
evaluasi.
Cimahi, 26 September 2014
Penulis
BAB I
A. Identitas Buku
1.
Judul Buku : Ealuasi Pendidikan
2.
Penulis :
Drs. H. Daryanto
3.
Tahun Terbit : 2010
4.
Penerbit :
PT. Rineka Cipta
5.
Kota Terbit : Jakarta
6.
Cetakan ke : 6
B. Alasan Pemilihan Buku
Buku ini saya pilih
karena memebahas mengenai cara mengevaluasi atau menilai kegiatan yang terjadi
dalam kegiatan pendidikan. Buku ini sangat penting untuk mahasiswa jurusan
kependidikan dan praktisi kependidikan karena evaluasi dalam kegiatan
pendidikan dapat menjadi bahan pertimbangan dan tolak ukur untuk mencapai
tujuan instruksional. Selain itu evaluasi dalam proses belajar mengajar dapat
memberikan informasi akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan pendidikan dalam
kurikulum sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya.
BAB II
LAPORAN ISI BUKU
Bab 1 PENGERTIAN, TUJUAN, DAN FUNGSI EVALUASI PENDIDIKAN
A. Pengertian Evaluasi Pendidikan
Evaluasi adalah
pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam
kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana
tingkat perubahan dalam pribadi siswa. (Blom : 1971)
Evaluasi merupakan
proses menggambarkan, memperoleh, dan menyajikan informasi yang berguna untuk
menilai alternatif keputusan. (Stufflebeam : 1971)
Evaluasi artinya
penentuan kesesuaian antara penampilan (unjuk kerja) dan tujuan. Evaluasi
adalah Pertimbangan profesional atau suatu proses yang memungkinkan seseorang
membuat pertimbangan tentang daya tarik atau nilai sesuatu.
B. Tujuan Evaluasi Pendidikan
Tujuan utama
melakukan evaluasi dalam proses belajar mengajar adalah untuk mendapatkan
informasi yang akurat mengenai tingkat pencapaian tujuan intruksional oleh
siswa sehingga dapat diupayakan tindak lanjutnya. Tindak lanjut termaksud
merupakan fungsi evaluasi dan daapat berupa :
1. Penempatan
pada tempat yang tepat,
2. Pemberian
umpan balik,
3. Diagnosis
kesulitan belajar siswa, atau
4. Penentuam
kelulusan.
Untuk
masing-masing tindak lanjut yang dikehendaki ini diadakan tes, yang diberi nama
:
1. Tes
penempatan,
2. Tes
formatif,
3. Tes
diagnostik, dan
4. Tes
sumatif.
C. Fungsi Evaluasi Pendidikan
Fungsi
evaluasi ada beberapa hal :
1. Evaluasi
berfungsi selektif, dengan cara mengadakan evaluasi guru mempunyai cara untuk
mengadakan seleksi terhadap siswanya. Seleksi itu sendiri mempunyai berbagai
tujuan, antara lain :
a. Untuk
memilih siswa yang dapat diterima disekolah tertentu.
b. Untuk
memilih siswa yang dapat naik ke kelas atau tingkat berikutnya.
c. Untuk
memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.
d. Untuk
memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah dan sebagainya.
2. Evaluasi
berfungsi diagnostik, apabila alat yang digunakan dalam evaluasi cukup memenuhi
persyaratan, maka dengan melihat hasilnya, guru akan mengetahui kelemahan
siswa. Disamping itu diketahui pula sebab-musabab kelemahan itu. Jadi dengan
mengadakan evaluasi, sebenarnya guru mengadakan diagnosis kepada siswa tentang
kelebihan dan kelemahannya. Dengan diketahuinya sebab-sebab kelemahan ini, akan
lebih mudah decari cara untuk mengatasi.
3. Evaluasi
berfungsi sebagai penempatan, pendekatang yang lebih bersifat melayani
perbedaan kemampuan, adalah pengajaran secara kelompok. Untuk dapat menentukan
dengan pasti dikelompok mana seorang siswa harus ditempatkan, digunakan suatu
evaluasi. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil evaluasi yang sama, akan berada
dalam kelompok yang sama dalam belajar.
4. Evaluasi
berfungsi sebagai pengukuran keberhasilan, dimaksudkan untuk mengetahui sejauh
mana suatu program berhasil diterapkan. Keberhasilan program ditentukan oleh
beberapa faktor guru, metode mengajar, kurikulum, sarana dan sistem kurikulum.
Evaluasi dalam
proses pengembangan sistem pendidikan
dimaksudkan untuk :
1. Perbaikan
sistem,
2. Pertanggungjawaban
kepada pemerintah dan masyarakat,
3. Penentuan
tindak lanjut hasil pengembangan.
Bab 2 PRINSIP-PRINSIP DAN TEKNIK EVALUASI
A. Prinsip-Prinsip Evaluasi
Prinsip-prinsip
evaluasi adalah sebagai berikut :
1. Keterpaduan,
tujuan intruksional, materi dan metode pengajaran, serta evaluasi merupakan
tiga kesatuan terpadu yang tidak boleh dipisahkan.
2. Keterlibatan siswa,
prinsip ini berkaitan erat dengan metode belajar CBSA ( Cara Belajar Siswa
Aktif) yang menuntuk keterlibatan siswa secara aktif, siswa mutlak.
3. Koherensi,
evaluasi harus berkaitan dengan materi pengajaran yang sudah disajikan dan
sesuai dengan ranah kemampuan yang hendak diukur.
4. Pedagodis,
evaluasi juga perlu diterapkan sebagai upaya perbaikan sikap dan tingkah laku
ditinjau dari segi pedagogis. Evaluasi dan hasilnya hendaknya dapat dipakai
sebagai alat motivasi untuk siswa dalam kegiatan belajarnya. Hasil evaluasi
hendaknya dirasakan sebagai ganjaran (reward)
yakni sebagai penghargaan bagi yang berhasil tetapi merupakan hukuman bagi yang
tidak/kurang berhasil.
5. Akuntabilitas,
sejauh mana keberhasilan program pengajaran perlu kepada pihak-pihak yang
berkepentingan dengan pendidikan sebagai
laporan pertanggungjawaban (accountability).
Pihak-pihak ini perlu mengetahui keadaan kemajuan belajar siswa agar dapat
dipertimbangkan pemanfaatannya.
B. Teknik Evaluasi
Secara garis
besar, teknik evaluasi yang digunakan dapat digolongkan menjadi dua maca, yaitu
:
1. Teknik
non tes, ada beberapa teknik non-tes yaitu :
a. Skala
bertingkat (rating scale),
menggambarkan suatu nilai yang berbentuk angka terhadap suatu hasil
pertimbangan.
b. Kuesuioner
(questionaire), sering dikenal sebagi
angket. Pada dasarnya adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh
orang yang akan diukur (responden).
c. Daftar
cocok (check-list), deretan
pernyataan (yang biasanya singkat-singkat), dimana responden yang dievaluasi
tinggal membubuhkan tanda cocok (√) di tempat yang sudah disediakan.
d. Wawancara
(interview), adalah suatu cara yang
digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanpa tanya
jawab sepihak.
e. Pengamatan
(observation), suatu teknik yang
dilakukan dengan cara mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan
secara sistematis
f. Riwayat
hidup, adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa
kehidupannya. Dengan mempelajari riwayat hidup, maka subjek evaluasi akan dapat
menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan dan sikap dari objek
yang dimulai.
2. Teknik
tes, tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang
digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau
bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Ditinjau dari segi kegunaaan
untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3 macam tes, yaitu :
a. Tes
diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mengetahui kelemahan-kelemahan siswa
sehingga berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan pemberian
perlakuan yang tepat.
b. Tes
formatif dimaksudkan untuk mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah
mengikuti sesuatu program tertentu.
c. Tes
sumatif dilaksanakan setelah berakhirnya pemberian sekelompok program atau
sebuah program yang lebih besar. Dalam pengalaman di sekolah tes formatif dapat
disamakan dengan ulangan harian sedangkan tes sumatif ini dapat disamakan
dengan ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada tiap akhir semester.
Bab 3 KLASIFIKASI TUJUAN INSTRUKSIONAL
A. Jenis-Jenis Tujuan Pendidikan
1. Tujuan
institusional adalah tujuan dari masing-masing institusi atau lembaga. Misalnya
:
a. Tujuan
Sekolah Dasar.
b. Tujuan
Sekolah Menengah Pertama.
c. Tujuan
Sekolah Pendidikan Guru.
2. Tujuan
kurikuler adalah tujuan dari maasing-masing bidang studi. Misalnya :
a. Tujuan
pelajaran pendidikan agama.
b. Tujuan
pelajaran matematika.
c. Tujuan
pelajaran ilmu pengetahuan sosial.
Tiap-tiap
tujuan, baik institusional maupun tujuan kurikuler selalu merupaan sumbangan
bagi tercapainya tujuan umum, yakni tujuan pendidikan nasional.
B. Tujuan Instruksional
Ada
dua macam tujuan instruksional yaitu :
1. Tujuan
instruksional umum (TIU).
2. Tujuan
instruksional khusus (TIK).
Perbedaan atas
dua macam tujuan ini didasarkan atas luasnya tujuan yang akan dicapai. Setiap
guru dituntut untuk menyadari tujuan dari kegiatannya mengajar dengan titik
tolak kebutuhan siswa. Oleh karena itu dalam merancang sistem belajar yang akan
dilakukannya, langkah pertama yang ia lakukan adalah membuat tujuan
instruksional. Dengan tujuan instruksional :
1. Guru
mempunyai arah untuk :
a. Memilih
bahan pelajaran
b. Memilih
prosedur (metode) mengajar.
2. Siswa
mengetahui arah belajarnya.
3. Setiap
guru mengetahui batas-batas tugas dan wewenangnya mengajarkan suatu bahan
sehingga diperkecil kemungkinan timbulnya celah (gap) saling menutup (overlap) antara guru.
4. Guru
mempunyai patokan dalam mengadakan penilaian kemajuan belajar siswa.
5. Guru
sebagai pelaksana dan petugas-petugas pemegang kebijaksanaan (decision maker) mempunyai kritera untuk
mengevaluasi kualitas maupun efisiensi pengajaran.
C. Merumuskan Tujuan Instruksional
Langkah-langkah
dalam merumuskan tujuan instruksional khusus (TIK) :
1. Membuat
sejumlah TIU (Tujuan Instruksional Umum) untuk setiap mata pelajaran/bidang
studi yang akan diajarkan.
2. Dari
masing-masing TIU dijabarkan menjadi sejumlah TIK yang rumusannya jelas,
khusus, dapat diamati, terukur, dan menunjukan perubahan tingkah laku.
Contoh-contoh rumusan untuk TIU :
a. Memahami
teori evaluasi.
b. Mengetahui
perbedaan antara skor dan nilai.
c. Mengerti
cara mencari validitas.
d. Menghayati
perlunya penilaian yang tepat.
e. Menyadari
pentingnya mengikuti kulian dengan teratur.
f. Menghargai
kejujuran mahasiswa dalam mengerjakan tes.
Atas dasar semua
keterangan ini maka agar dalam mengadakan evaluasi terlihat hasilnya, TIU ini
perlu diperinci lagi sehingga menjadi jelas dan tidak dapat disalahtafsirkan
oleh beberapa orang. Rumusan TIK yang lengkap memuat tiga komponen, yaitu :
1. Tingkah
laku akhir (terminal behavior).
2. Kondisi
demonstrasi (condicion of demonstration
or tes).
3. Standar
keberhasil (standar of performance).
D. Data-Data Operasional
1.
Cognitif
Domain
a. Pengetahuan
(knowledge)
b. Pemahaman
(comprehension)
c. Aplikasi
d. Analisis
e. Sintesis
f. Evaluasi
2.
Affectife
Domain
a. Resiving
b. Responding
c. Valuing
d. Organization
e. Characterization by value or value
complex
3.
Psikomotor
domain
a. Muscular or motor skilis
b. Manipulation of materials or
objects
c. Neuromuscular coordination
E. Kondisi Demonstrasi
Kondisi
demonstrasi adalah komponen TIK yang menyatakan suatu kondisi atau situasi yang
dikenakan kepada siswa pada saat ia mendemonstrasikan tingkah laku akhir,
misalnya :
1. Dengan
penulisan yang betul.
2. Urut
dari yang paling tinggi.
3. Dengan
bahasanya sendiri.
Bab 4 BERBAGAI TEKNIK EVALUASI
A. Measurement Model
Model ini dapat
dipandang sebagai model yang tertua di dalam sejarah evaluasi dan telah banyak
dikenal di dalam proses evaluasi pendidikan.
1. Hakikat
evaluasi
Sesuai dengan
namanya, model ini sangat menitikberatkan peranan kegiatan pengukuran didalam
melaksanakan proses evaluasi.
2. Ruang
lingkup evaluasi
Yang dijadikan
objek dari kegiatan evaluasi model ini adalah tingkah laku, terutama tingkah
laku siswa.
3. Pendekatan
Alat evaluasi
yang lazim digunakan didalam model evaluasi ini adalah tes tertulis atau paper and pencil test. Secara lebih
khusus lagi, bentuk tes yang biasanya digunakan adalah bentuk tes objektif yang
soal-soalnya berupa pilihan ganda, menjodohkan, benar salah dan sebagainya.
B. Congruence Model
Model yang kedua
ini dapat dipandang sebagai reaksi terhadaap model yang pertama, sekalipun
dalam beberapa hal masih menujikan adanya persamaan dengan model yang pertama.
1. Hakikat
evaluasi
Evaluasi ini
dimaksudkan sebagai kegiatan untuk melihat sejauh mana tujuan-tujuan pendidikan
telah dapat dicapai siswa dalam bentuk hasil belajar yang mereka perlihatkan
pada akhir kegiatan pendidikan.
2. Ruaang
lingkup
Berhubung evaluasi menurut model
yang kedua ini dimaksudkan untuk memeriksa persesuaian (congrunce) antara tujuan dan hasil belajar, maka yang dijadikan
objek evaluasi adalah tingkah laku siswa. Secara lebih khusus, yang dinilai di
sini adalah perubahan tingkah laku yang diinginkan (intended behavior) yang perlihatkan oleh siswa pada akhir kegiatan
pendidikan.
3. Pendekatan
Sehubungan dengan aspek-aspek hasil
belajar yang perlu dievaluasi, model ini tidak membatasi alat evaluasi hanya
pada tes tertulis atau paper and pencil
test saja. Carrol misalnya, menyebutkan perlunya digunakan alat-alat
evaluasi lain seperti tes perbuatan dan juga observasi.
Langkah-langkah yang perlu ditempuh
d dalam proses evaluasi menurut model ini, Tyler mengajukan empat langkah
pokok, yaitu :
a. Merumuskan
atau mempertegas tujuan-tujuan pengajaran.
b. Menetapkan
“tes situation” yang diperlukan.
c. Menyusun
alat evaluasi.
d. Menggunakan
alat evaluasi.
C. Educational System Evalution Model
Model ketiga ini
merupakan reaksi terhadap kedua model terdahulu. G. V. Class dalam tulisannya
yang berjudul Two Generations of
Evaluation Models menyebut midel ketiga ini sebagai Educational System Evaluations Model karena ketiga ruang lingkupnya
yang jauh lebih luas dari kedua model yang terdahulu.
1. Hakikat
evaluasi
Evalusi menurut
model ini dimaksudkan untuk membandingkan performance
dari berbagai dimensi sistem yang sedang dikembangkan dengan sejumlah
kriteria tertentu, untuk akhirnya sampai pada suatu deskripsi dan judgement mengenai sistem yang dinilai
tersebut.
2. Ruang
lingkup
Dimensi dari
sistem pendidikan yang dijadikan objek evaluasi di dalam model yang ketiga
ini lebih luas yaitu mencakuop dimensi
peralatan/sarana proses dan hasil atau produk yang diperlihatkan oleh sistem
yang bersangkutan.
Ruang lingkup
evaluasi yang diajukan oleh model ketiga ini adalah bahwa:
a. Objek
evaluasi dalam rangka pengembangan kurikulum atau sistem pendidikan mencakup
sekurang-kurangnya tiga dimensi, yaitu dimensi peralatan/sarana, proses, dan
hasil yang dicapai.
b. Jenis-jenis
data yang diperlukan dalam proses penilaian mencakup data objektif maupun data
subjektif (judgemental data).
3. Pendekatan
Ada
dua pendekatan utama yang diajukan oleh
model ini dalam pelaksanaan evaluasi, yaitu :
a. Membandingkan
performance setiap dimensi sistem dengan kriteri intern dalam sistem itu
sendiri, ditempuh pada saat sistem masih berada pada fase pengembangan dan
masih mengalami perbaikan-perbaikan.
b. Membandingkan
performance setiap dimensi sistem dengan kriteria ekstern di luar sistem yang
bersangkutan, ditempuh pada saat sistem sudah berada dalam keadaan “siap”
setelah mengalami perbaikan-perbaikan selama fase pengembangan.
D. Illuminative Model
Sebagaimana
halnya model yang ketiga, model yang keempat ini pun dikembangkan sebagai reaksi terhadap dua model evaluasi
yang pertama, yaitu measurement dan congrruence. Penggunaan nama Illuminative model oleh pengembangannya
didasarkan atas alasan bahwa penggunaan berbagai cara penilaian di dalam model
ini bila dikombinasikan akan “help
illuminative problems, issues, and significant program features” . model
ini dikembangkan terutama di Inggris dan banyak dikaitkan dengan pendekatan
dalam bidang antropologi.
1. Hakikat
evaluasi
Model
yang keempat ini lebih menekankan pada evaluasi kualitatif dan “terbuka”.
Sistem pendidikan yang dinilai tidak ditinjau sebagai suatu yang terpisah
melaikan dalam hubungan dengan suatu learning
milieu, dalam konteks sekolah
sebagai lingkungan material dan
psikososial, yang guru dan muridnya bekerja sama.
Tujuan
evaluasi menurut model yang keempat ini adalah mengadakan studi yang cermat
terhadap sistem yang bersangkutan : bagaimana pelaksaan sistem tersebut
dilapangan, bagaimana pelaksaan itu dipengaruhi, oleh situasi sekolah tempat
yang bersangkutan dikembangkan, apa kebaikan-kebaikan dan
kelemahan-kelemahannya dan bagaimana sistem tersebut mempengaruhi
pengalaman-pengalaman belajar para siswa.
2. Ruang
lingkup
Model keempat
ini mengarahkan kegiatan evaluasinya tidak hanya pada aspek hasil belajar siswa
melainkan pada aspek yang lebih luas. Objek evaluasi yang diajukan oleh model
ini mencakup :
a. Latar
belakang dan perkembangan yang dialami oleh sistem yang bersangkutan;
b. Proses
pelaksanaan sistem itu sendiri;
c. Hasil
belajar yang diperlihatkan oleh para siswa;
d. Kesukaran-kesukaran
yang dialami dari perencanaansampai dengan pelaksanaanya dilapangan.
3. Pendekatan
Model evaluasi
ini mengajukan pendekatan yang merupakan alternatif bagi apa yang disebut
sebagai agricultural-botany paradigm,
yang selain digunakan dalam ilmu pengetahuan alam juga digunakan dalam
eksperimen dalam bidang psikologi.
Sehubungan
dengan tujuan dan pendekatan evaluasi yang dianut oleh model ini, ada tiga fase
kegiatan evaluasi yang diajukan yang secara berturut-turut disebut : observe, inquiry further, dan seek to explain.
Bab 5 PENGUKURAN RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, DAN PSIKOMOTOR DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
A. Pengukuran Ranah Kognitif
Dalam
hubungannya dengan satuan pelajaran, ranah kognitif memegang peranan paling
utama. Yang menjadi tujuan pengajaran di SD, SMTP, dan di SMU pada umumnya
adalah peningkatan kemampuan siswa dalam aspek kognitif. Aspek
kognitif dibedakan atas enam
jenjang menurut taksonomi Bloom (1956) yang diurutkan secara hierarki
piramidal.
1. Pengetahuan
(knowledge)
Pengetahuan
adalah aspek yang paling dasar dalam taksonomi Bloom. Seringkali disebut juga
aspek ingatan (recall). Dalam jenjang
kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengenali atau mengetahui adanya
konsep, fakta atau istilah-istilah, dan lain sebagainya tanpa harus mengerti
atau dapat menggunakannya. Pengetahuan atau kemampuan mengingat ini dapat
dirinci sebagai berikut :
a. Terminologi
Kemampuan
yang paling besar ialah mengetahui arti tiap kata.
b. Fakta-fakta
lepas (isolated facts)
Fakta-fakta
yang diketahuinya tetap berdiri sendiri tanpa dihubungkan dengan fakta atau
gejala lainnya.
c. Cara-cara
mempelajari fakta
Fakta-fakta
lepas itu harus dipelajari, cara mempelajarinya antara lain dengan jalan
mempertimbangkan, mengkritik, atau mengorganisasikan fakta-fakta lepas
tersebut.
1) Konvensi
Mempelajari
berbagai peraturan, baik peraturan pemerintah, peraturan agama, peraturan
khusus dalam masyarakat, maupun peraturan yang dikenal sebagai etik pergaulan.
2) Tren
dan urut-urutan pergaulan
Anak dituntut
mengetahui proses, arah, serta gerakan fenomena (kejadian) dalam hubungan
dengan waktu.
3) Kriteria
Siswa dapat
menyebut standar untuk mengevaluasi atau mengukur sesuatu tanpa sampai pada
hasil evaluasi atau pengukuran dengan berpedoman standar tersebut.
4) Metodologi
Siswa diminta
mengetahui macam-macam pendekatan yang dipakai untuk mempelajari dirinya dan
lingkungan hidupnya.
d. Universal
dan abstraksi
Pengetahuan akan
bagan-bagan dan pola-pola utama yang dipakai untuk mengorganisasikan
fenomena-fenomena. Termasuk dalam kelompok ini adalah :
1) Prinsip-prinsip
dan generalisasi
Siswa diharuskan
menguasai prinsip-prinsip atau generalisasi tertentu yang berhubungan dengan
bahan pengetahuan lain.
2) Teori
Teori merupakan
perumusan-perumasan yang paling abstak, dan dapat menunjukan saling berhubungan
dan organisasi dari hal-hal yang khusus.
2. Pemahaman
(comprehension)
Kemampuan ini
umumnya mendapat penekanan dalam proses belajar-mengajar. Siswa dituntut
memahami atau mengerti apa yang diajarkan, mengetahui apa yang sedang
dikomunikasikan dan dapat memanfaatkan isinyatanpa keharusan menghubungkannya
dengan hal-hal lain. Kemampuan pemahaman dapat dijabarkan menjadi tiga, yaitu :
a. Menerjemahkan
(translation)
b. Menginterpretasi
(interpretation)
c. Mengekstrapolasi
(extrapolation)
3. Penerapan
(application)
Dalam jenjang
kemamuan ini dituntut kesanggupan ide-ide umum, tata cara, ataupun
metode-metode, prinsip-prinsip, serta teori-teori dalam situasi baru dan
kongkret. Situasi dimana ide, metode, dan lain-lain yang dipakai itu harus
baru, karena apabila tidak demikian, maka kemampuan yang diukur bukan lagi
penerapan tetapi ingatan semata-mata.
Pengukuran
kemampuan ini umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving). Melalui pendekatan ini
siswa dihadapkan dengan suatu masalah, entah riil atau hipotesis, yang perlu
dipecahkan dengan menggunakan pengetahuan yang telah dimiliknya. Dengan
demikian, penguasaan aspek ini sudah tentu harus didasari aspek pemahaman yang
mendalam tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan masalah tersebut.
4. Analisis
(analysis)
Dalam jenjang
kemampuan ini seseorang dituntut untuk dapat menguraikan suatu situasi atau
eadaan tertentu ke dalam unsur-unsur atau komponen-komponen pembentuknya.
Dengan jalan ini situasi atau keadaan tersebut menjadi lebih jelas. Kemampuan
analisis diklasifikasi atas tiga kelompok, yaitu :
a. Analisis
unsur
Dalam analisis
unsur diperlukan kemampuan merumuskan asumsi-asumsi dan mengidentifikasi
unsur-unsur penting dan dapat membedakan antara fakta dan nilai. Kata kerja
operasional yang dapat dipakai untuk merumuskan TIK dan mengatur kemampuan ini
adalah: membedakan, menemukan, mengenal, membuktikan, mengklasifikasikan, mengakui,
mengkategorikan, menarik kesimpulan, menyebarkan, merinci, dan menguraikan.
b. Analisis
hubungan
Analisis jenis
ini menuntut kemampuan mengenal unsur-unsur dan pola hubungannya. Kata kerja
operasional yang dapat dipakai merumuskan TIK adalah menganalisis,
membandingkan, membedakan, dan menarik kesimpulan.
c. Analisis
prinsip-prinsip yang terorganisasi
Jenis analisis
ini menuntuk kemampuan menganalisis pokok-pokok yang melandasi tatanan suatu
organisasi, kata kerja operasional yang dapat dipakai merumuskan TIK adalah:
menganalisis, membedakan, menemukan, dan menarik kesimpulan.
5. Sintesis
(synthesis)
Pada jenjang ini
seseorang dituntut untuk dapat menghasilkan sesuatu yang baru dengan jalan
menggabungkan berbagai faktor yang ada. Hasil yang diperoleh dari penggabungan
ini dapat berupa tulisan dan rencana atau mekanisme.
6. Penilaian
(evaluation)
Dalam
jenjang kemamuan ini seseorang dituntut untuk dapat mengevaluasi situasi,
keadaan, pernyataan, atau konsep berdasarkan suatu kritria tertentu. Yang
penting dalam evaluasi ialah menciptakan kriteria tertentu. Yang penting dalam
evaluasi ialah menciptakan kondisinya sedimikian rupa sehingga siswa mampu
mengembangkan kriteria, standar, atau ukuran untuk mengevaluasi sesuatu.
Ajaran
Islam memang harus diamalkan, untuk itu mesti terampil dalam mengamalkannya.
Tetapi, ajaran Islam juga harus diketahui dan dipahami. Disekolah, pembinaan
agama Islam dilakukan segala teratur.
Pengetahuan
tentang agama Islam terdiri atas pengetahuan konsep-konsep, dan prinsip-prinsip
yang ada di dalam ajaran Islam. Ajaran Islam banyak mengandumg konsep dan
prinsip.
Dalam
ajaran Islam banyak sekali konsep. Islam, muslim, mukmin, takwa, syahadat,
zakat, puas, haji, syarat, rukun, adalah sebagian dari sekian banyak konsep
yang dimaksud. Pengetahuan tentang konsep-konsep dalam ajaran Islam tidaknya
penting dilihat dari sudut sistem pengetahuan, tetapi juga penting dilihat dari
segi pengamalan. Pemahaman yang benar tentang konsep itu dapat membantu
benarnya pengamalan ajaran Islam.
B. Pengukuran Ranah Afektif
Ranah afektif
meliputi lima jenjang kemampuan.
1. Menerima
(receiving)
Jenjang ini
berhubungan dengan kesediaan atau kemauan siswa untuk ikut dalam fenomena atau
stimuli khusus (kegiatan dalam kelas, musik, baca buku, dan sebagainya).
Dipandang dari segi pengajaran, jenjang ini berhubunga dengan menimbulkan,
mempertahankan, dan mengarahkan perhatian siswa. Hasil belajar dalam jenjang
ini berjenjang mulai dari kesadaran bahwa sesuatu itu ada sampai kepada minat
khusus dari pihak siswa.
2. Menjawab
(responding)
Kemampuan ini
bertalian dengan partisipasi siswa. Pada tingkat ini, siswa tidak hanya
menghadiri suatu fenomena tertentu tetapi juga mereaksi terhadapnya dengan
salah satu cara. Hasil belajar dalam jenjang ini dapat menekankan kemauan untuk
menjawab (misalnya secara sukarela membaca tanpa ditugaskan) atau kepuasaan
dalam menjawab (misalnya membaca untuk
kenikmatan atau kegembiraan).
3. Menilai
(valuing)
Jenjang ini
bertalian dengan nilai yang dikenakan siswa terhadap suatu objek, fenomena,
atau tingkah laku tertentu. Jenjang ini berjenjang mulai dari hanya
sekedar penerimaan nilai (ingin
memperbaiki keterampilan kelompok) sampai ke tingkat komitmen yang lebih tinggi
(menerima tanggung jawab untuk fungsi kelompok yang lebih efektif).
4. Organisasi
(organization)
Tingkat ini
berhubungan dengan menyatukan nilai-nilai yang berbeda,
menyelesaikan/memecahkan konflik diatara nilai-nilai itu, dan mulai membentuk
suatu sistem nilai yang konsisten secara internal. Jadi, memberikan penekanan
pada membandinkan, menghubungkan dan mensintesiskan nilai-nilai. Hasil belajar
bertalian denngan konseptualisasi suatu nilai (mengakui tanggung jawab tiap
individu untuk memperbaiki hubungan-hubungan manusia) atau dengan organisasi
suatu sistem nilai (merencanakan suatu pekerjaan yang memenuhi kebutuhannya
baik dalam hal keamanan ekonomis maupun pelayanan sosial).
5. Karakterisistik
dengan suatu nilai atau kompleks nilai (characterization
by a value or value complex)
Pada jenjang ini
individu memiliki sistem nilai yang mengontrol tingkah lakunya untuk suatu
waktu yang cukup lama sehingga membentuk karakteristik “pola hidup”. Jadi,
tingkah lakunya menetap, konsisten, dan dapat diramalkan. Hasil belajar
meliputi sangat banyak kegiatan, tapi penekankan lebih besar diletakan pada kenyataan
bahwa tingkah laku itu menjadi ciri khas atau karakteristik siswa itu.
Kata-kata kerja
operasional untuk merumuskan TIK yang mengukur jenjang kemampuan dalam ranah
afektif adalah :
a. Menerima
(receiving) : menanyakan, menjawab,
menyebutkan, memilih, mengidentifikasikan, memberikan, mencandrakan (describe), mengikuti, menyeleksi,
menggunakan dan sebagainya.
b. Menjawab
(responding) : menjawab, melakukan,
menulis, berbuat, menceritakan, mengemukakan, melaporkan, dan sebagainya.
c. Menilai
(valuing) : menerangkan, membedakan,
memilih, mempelajari, mengusulkan, menggambarkan, menggabung, mempelajari,
menyeleksi, bekerja, membaca, daan sebagainya.
d. Organisasi
(organization) : mengorganisasi,
menyiapkan, mengatur, mengubah, membandingkan, mengintegrasikan, memodifikasi,
menghubungkan, menyusun, memadukan (combine),
menyelesaikan, menjelaskan, menyatukan, (synthesize),
menggeneralisasikan, dan sebagainya.
e. Karakterisasi
dengan suatu nilai atau komleks nilai (characterization
by a value or value complex) : menggunakan, mempengaruhi. Memodifikaasi,
mengusulkan, menerapkan, memecahkan, merevisi, bertindak, mendengarkan,
mengusulkan, menyuruh, membenarkan, (varivy)
dan sebagainya.
Inti beragama
adalah masalah sikap. Di dalam Islam sikap beragama itu intinya adalah iman.
Jadi, yang dimaksud beragama pada intinya ialah beriman, (dalam pembahasan
mendalam, ditemukan bahwa iman itu adalah keseluruhan Islam tersebut). Inti
pendidikan agama Islam ialah penanaman Iman.
C. Pengukuran Ranah Psikomotor
Ranah psikomotor
dikelompokan dalam tiga kelompok utama, yakni keterampilan motorik, manipulasi
benda-benda, dan koordinasi neomuscular. Maka, kata-kata kerja operasional yang
dapat dipakai adalah :
1. Keterampilan
motorik (muscular or motor skills) :
memperlihatkan gerak, menunjukan hasil (pekerjaan tangan), menggerakan,
menampilkan, melompat, dan sebagainya.
2. Manipulasi
benda-benda (manipulation of materialor
objects) : menyusun, membentuk, memindahkan, menggeser, merevisi, dan
sebaagainya.
3. Koordinasi
neomuscular : menghubungkan, mengamati, memotong, dan sebagainya.
Penanaman iman
kebanyakan berupa menciptakan kondisi yang memberikan kemungkinan tumbuh dan
berkembangnya rasa iman pada jiwa atau hati anak didik. Rasa iman itu mungkin
dalam bentuk rasa cinta, rasa kagum, rasa hormat pada Tuhan, para nabi dan pada
ajaran-ajaran agama.
Bab 6 PROSEDUR PELAKSANAAN EVALUASI
Pekerjaan
mengevaluasi ada prosedur tersendiri, meskipun perlu untuk ditekankan, bahwa
pekerjaan mengevaluasi itu lebih tepat untuk dipandang sebagai suatu proses
kontinu. Suatu kontinous proses yang tidak terputus-putus, tetapi ada gunanya
juga mengetahui prosedur apa sajakah yang merupakan titik-titik penghubung dari
proses yang bersifat kontinu tadi.
A. Langkah Perencanaan
Sukses yang akan dapat
dicapai oleh suatu program evaluasi telah turut ditentukan oleh memadai atau
tidaknya langkah-langkah yang dilaksanakan dalam perencanaan.
B. Langkah Pengumpulan Data
Menetukan data apa saja
yang kita butuhkan untuk melakukan tugas evaluasi yang kita hadapi dengan baik.
Soal penentuan data yang harus dikumpulkan untuk keperluan suatu tugas evaluasi
ini berhubungan erat dengan rumusan tentang tugas kita dalam suatu usaha
pendidikan.
C. Langkah Penelitian Data
Data yang telah terkumpul harus disaring lebih
dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan ini kita sebut
penelitian data atau verifikasi data dan maksudnya ialah untuk memisahkan data
yang “baik” yang akan dapat memperjelas gambaran yang akan kita proleh mengenai
individu atau sekelompok individu yang sedang kita evaluasi, dari data yang
kurang baik yang akan hanya merusak atau mengaburkan gambaran yang akan kita
peroleh apabila turut kita olah juga.
D. Langkah Pengolahan Data
Langkah pengolahan data
dilakukan untuk memberikan “makna” terhadap data yang ada pada kita. Jadi hal
ini berarti bahwa tanpa kita olah, dan diatur lebih dulu itu sebenarnya tidak
dapat menceritakan suatu apapun kepada kita.
E. Langkah Penafsiran Data
Memisahkan
langkah penafsiran dari langkah pengolahan sebenarnya merupakan suatu pemisahan
yang terlalu dibuat-buat. Dalam praktek kedua langkahini tidak dipisah-pisahkan
kalau kita melakukan suatu pengolahan terhadap
sekumpulan data, dengan sendirinya
kita akan memperoleh “tafsir” makna data yang kita hadapi.
F. Langkah Meningkatkan Daya Serap Peserta Didik
Hasil pengukuran
memiliki fungsi utama untuk memperbaiki tingkat penguasaan peserta didik. Hasil
pengukuran secara umum dapat dikatakan bisa membantu, memperjelas tujuan
instruksional, menentukan kebutuhan peserta didik, dan menentukan keberhasilan
peserta didik dalam suatu proses pembelajaran.
1. Memperjelas
tujuan instruksional
Sebelum
diberlakukannya kurikulum 1975, para pendidik kebanyakan dipandu oleh buku teks
(buku pegangan) dalam proses belajar mengajar. Tidak tertulis apa tujuan yang
ingin dicapai proses pembelajaran itu. Guru dan peserta didik mengikuti secara
tertib apa yang ditulis pada setiap halaman buku teks. Pada saaat ujuan barulah
peserta didik mengetahui hal-hal yang pokok dalam pelajaran selama ini.
Dengan
berlakunya kurikulum 1975 sampai sekarang, dalam persiapan mengajar dan dalam
sebagian buku telah tercantum tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran itu.
Pendidik melaksanakan tugasnya sesuai dengan persiapan yang telah direncanakan.
Ia menyampaikan kepada peserta didik tujuan instruksional yang ingin dicapai
melalui pelajaran itu. Jadi peserta didik pada awal pembelajaran sudah
mengetahui arah dan tujuan yang ingin dikuasainya.
2. Penilaian
awal yang menentukan kebutuhan peserta didik
Penilaian awal
ini bentuknya dapat dengan mempelajari catatan kemajuan dari sekolah asal,
sebelum peserta didik mengikuti program yang dikembangkan dan atau melalui tes
awal (pre-test) yang dikembangkan
untuk mengetahui tingkat penguasaan peserta tentang materi yang akan diberikan.
Tes awal dapat
digunakan sebagai pelengkap atas catatan kemajuan yang diterima dari sekolah,
atau satu-satunya sumber yang dapat digunakan untuk merancang program yang
sesuai dengan kemampuan peserta didik. Hasil tes awal dapat berfungsi untuk :
a. Menentukan
kesiapan peserta, antara lain sejauh mana peserta telah memilih kemampuan untuk
mengikuti program yang dikembangkan.
b. Menentukan
bagian-bagian mana dari program yang telah dikuasi peserta.
c. Menetukan
efektifitas program setelah dilaksanakan terakhir. Seberapa banyak pengetahuan
peserta meningkat dengan adanya program (perbedaan skor tes akhir dengan tes
awal).
d. Mendapatkan
informasi yang dapat digunakan untuk menata program sesuai dengan peserta.
3. Memonitor
kemajuan peserta didik
Monitoring
kemajuan
peserta didik selama proses pembelajaran bertujuan untuk mengarahkan peserta
didik pada jalur yang membawa hasil-hasil belajar yang maksimal. Monitoring
dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus.
G. Laporan Hasil Penelitian
Pada akhir
penggal waktu proses pembelajaran diperlukan suatu laporan kemajuan peserta
didik, yang selanjutnya merupakan laporan kemajuan sekolah. Laporan ini akan
memberikan bukti sejauh mana tujuan pendidikan yang diharapkan oleh anggota
masyarakat khususnya orang tua peserta didik dapat tercapai.
Agar anggota
masyarakat dapat dinilai kemajuan sekolah secara objektif seyogianya setiap
lembaga pendidikan membuka diri untuk memberi informasi secara berkala.
Pemberian informasi ini dapat berupa laporan umum dan laporan khusus tentang prestasi yang dicapai
oleh sekolah.
1. Laporan
kemajuan umum
Secara berkala,
terutama pada akhir program sekolah, masyarakat diberi informasi tentang bagian
yang telah dilaksanakan. Laporan kemajuan ini dapat berbentuk laporan fisik dan
laporan melalui media.
a. Laporan
kemajuan umum yang berbentuk fisik dapat dilaksanakan melalui berbagai kegiatan
seperti pameran dan pertandingan pameran.
b. Laporan
kemajuan umum yang berbentuk media, selain laporan resmi kepala sekolah kepada
atasannya, yang ditulis rutin, juga perlu dikembangkan laporan yang dapat
dibaca masyarakat baik dalam bentuk media cetak maupun media elektronika.
2. Laporan
kemajuan khusus
Laporan ini pada
umumnya bersifat pribadi, karena menyangkut diri pribadi peserta didik. Laporan
ini ditujukan khusus kepada peserta didik dan orang tuannya. Paling tidak ada
dua jenis wadah yang dapat digunakan untuk menyampaikan laporan ini yaitu
melalui :
a. Pertemuan
dengan orang tua peserta didik
Pertemuan
pendidik/guru dengan orang tua peserta didik merupakan kegiatan yang tidak
terpisahkan dengan buku rapor peserta didik. Dengan adanya pertemuan tatap muka
ini kedua belah pihak akan membagi saling melegakapi informasi tentang pribadi
peserta didik. Melaui pertemuan ini masalah yang dihadapi di sekolah ataupun
yang terjadi di rumah akan dapat dicari jalan keluarnya demi keberhasilan
peserta didik.
b. Buku
laporan kemajuan atau buku rapor
Kalau
pada laporan kemajuan umum telah dipamerkan kegiatan atau kegiatan individual
atau hasil kegiatan kelompok yang menyangkut pengembangan ranah kognitif
(proses berfikir), ranah psikomotor (keterampilan manual), maupun ranah afektif
(apresiasi, kecermatan, ketelitian, kerjasama, kreativitas, dan sebagainya),
maka seharusnya dalam buku rapor ketiga ranah ini dilaporkan kemajuannya bagi
setiap peserta didik.
Bukankah
setiap pendidik berkewajiban untuk mensukseskan Tujuan Pendidikan nasional.
Hasil usaha pendidik tersebut seyogianya tercantum dalam buku kemajuan rapor
peserta didik.
Bab 7 ANALISIS BUTIR-BUTIR INSTRUMEN EVALUASI
A. Menilai Tes yang Dibuat Sendiri
Ada
empat cara untuk menilai tes, yaitu :
1. Meneliti
secara jujur soal-soal yang sudah disusun, kadang-kadang dapat diperoleh
jawaban tentang ketidakjelasan perintah atau bahasa, taraf kesukaran dan
lain-lain keadaan soal tersebut.
2. Mengadakan
analisis soal (terms analysis).
Analisis soal adalah suatu prosefur yang sistematis, yang akan memberikan
informasi-informasi yang sangat khusus terhadap butir tes yang kita susun.
3. Mengadakan
checking validitas. Validitas yang
paling penting dari tes buatan guru adalah validitas kurikuler (content validity). Untuk mengadakan checking validitas kurikuler, kita harus
merumuskan tujuan setiap bagian pelajaran secara khusus dan jelas sehinga
setiap soal dapat kita jodohkan dengan setiap tujuan khusus tersebut.
4. Mengadakan
checking reabilita. Salah satu
indikator untuk tes yang mempunyai reliabilitas yang tinggi adalah bahwa
kebanyakan dari soal-soal tes itu mempunyai daya pembeda yang tinggi.
B. Analisis Butir-Butir Soal
Analisis soal
antara lain bertujuan untuk mengadakan identifikasi soal-soal yang baik, kurang
baik dan soal yang jelek. Dengan analisis soal dapat diperoleh informasi
tentang kejelekan sebuah soal dan “petunjuk” untuk mengadakan perbaikan.
Beberapa masalah yang berhubungan dengan analisis soal, yaitu : taraf
kesukaran, daya pembeda, dan pola jawaban soal.
1. Taraf
kesukaran
Soal yang baik
adalah soal yang tidak terlalu mudah atau tidak terlalu sukar. Soal yang
terlalu mudah tidak merangsang siswa untuk mempertinggi usaha memecahkannya.
Sebaliknya soal yang teerlalu sukar akan menyebabkan siswa menjadi putus asa
dan tidak mempunyai semangat untuk mencoba lagi karena diluar jangkauannya.
2. Daya
pembeda
Daya pembeda
soal, adalah kemampuan sesuatu soal untuk membedakan siswa yang pandai
(berkemampuan tinggi) dengan siswa yang bodoh (berkemampuan rendah). Angka yang
menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks kesukaran, indeks diskriminasi
(daya pembeda) ini berkisar antara 0,00 sampai 1,00. Hanya bedanya, indeks
kesukaran tidak mengenal tanda negatif (-), tetapi pada indeks diskriminasi ada
tanda negatif. Tanda negatif pada indeks diskriminasi digunakan jika sesuatu
soal “terbalik” menunjukan kualitas testee. Yaitu anak pandai disebut bodoh dan
anak bodoh disebut pandai.
3. Pola
jawaban soal
Yang dimaksud
pola jawaban disini adalah distribusi testee dalam hal menentukan pilihan
jawaban pada soal bentuk pilihan ganda. Pola jawaban soal diperoleh dengan
menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang
tidak memilih pilihan manapun (blangko). Dalam istilah evaluasi disebut omit,
disingkat O.
Dari pola
jawaban soal dapat ditentukan apakah pengecoh (distractor) berfungsi sebagai pengecoh dengan baik atau tidak.
Engecoh yang tidak dipilih sama sekali oleh testee berarti bahwa pengecoh itu
jelek, terlalu menyolok menyesatkan. Sebaliknya sebuah distractor (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi dengan baik apabila
distraktor tersebut mempunyai daya tarik yang besar bagi pengikut-pengikut tes
yang kurang memahami konsep atau kurang menguasai bahan.
Bab 8 INTERPRETASI NILAI EVALUASI
A. Merencanakan Evaluasi
Pertama sekali
yang harus menjadi titik perhatian ialah bahwa cara dan alat evaluasi itu
ditentukan oleh isi TIK. TIK yang dirumuskan dengan benar pasti dapat
menunjukan cara dan alat evaluasi yang efektif dan efisien. TIK itu berisi salah
satu dari tiga kemungkinan : mengenai pemahaman (kognitif), penerimaan (sikap,
efektif), dan keterampilan (psikomotor). Karena itu tesnya pun harus sesuai
dengan isi itu, tes pengetahuan, tes sikap dengan skla sikap, tes keterampilan
dengan tes tindakan (performance test).
Konsep utama
dalam hal evaluasi ialah bahwa evaluasi haruslah terus menerus dan menyeluruh.
Terus menerus diterapkan dalam bentuk menyelenggarakan tes harian (post test), tes bulanan (formatif) dan
tes akhir program (tes sumatif), menyeluruh diterapkan dengan menyelenggarakan
pengetesan yang ditujukan kepada seluruh daerah binaan (kognitif, afektif, dan
psikomotor), psikomotor itu mencakup aspek keterampilan melakukan dan
melakukannya dalam kehidupan (pengalaman).
B. Menentukan Entering Behavior
Kesiapan yang
paling penting diketahui guru ialah kesiapan siswa dalam hal pengetahuan dan
keterampilan dihubungkan dengan tujuan pengajaran, karena
entering
behavior mampu menjelaskan kapan pengajaran harus dimulai.
Secara keseluruhan ada empat hal yang harus iperhitungkan dalam menentukan entering behavior siswa, yaitu :
1. Masalah
kesiapan;
2. Hal
kematangan;
3. Perbedaan
individu;
4. Perbedaan
individu siswa.
C. Beberapa Skala Penilaian
1. Skala
bebas adalah angka tertinggi dari skala yang digunakan tidak selalu sama. Contohnya
angka tertinggi tidak hanya angka sepuluh tapi bisa menggunakan angka 15, 25,
dan seterusnya.
2. Skala
huruf, selai menggunakan angka pemberian nilai dapat dilakukan dengan huruf A,
B, C, D, dan E.
D. Distribusi Nilai
Distribusi nilai
yang dimiliki oleh siswa-siswi suatu kelas didasarkan pada dua macam standar,
yaitu :
1. Distribusi
nilai berdasarkan standar mutlak
Dengan dasar
bahwa hasil belajar siswa debandingkan dengan sebuah standar mutlak atau dalam
hal ini skor tertinggi yang diharapkan, maka tingkat penguasaan siswa akan
terlihat dalam berbagai bentuk kurva.
2. Distribusi
nilai berdasarkan standar relatif
Dalam
menggunakan standar relatif atau norm-referenced,
kedudukan seseorang selalu dibandingkan dengan kawan-kawannya dalam kelompok.
Dalam ini tanpa menghiraukan apakah distribusi skor terletak dalam kurva kuling
positf atau juling negatif, tetapi dalam norm-referenced
selalu tergambar dalam kurva normal. Hal ini didasarkan atas asumsi bahwa
apabila distribusi skor tergambar dalam kurva juling fositif, yang kurang
sempurna adalah soal-soal tesnya, yaitu terlalu sukar.
E. Standar Nilai
Pendapat
Gronlund dalam distribusi nilai ini, skor-skor siswa direntangkan menjadi 9
nilai disebut juga Standar Nines atau Staines. Untuk menentukan persentase
siswa yang mendapat nilai, diambil dari nilai gabungan antara nilai tes
formatif dan sumatif. Selain standar nines atau staines ada lagi standar yang
lain, yaaitu :
1. Standar
eleven (stanel), dikembangkan oleh Fakultas Ilmu Pendidikan UGM disesuaikan
dengan sistem penilaian di Indonesia. Dengan stanel ini, sistem penilaian
membagi sekala menjadi 11 golongan.
2. Standar
sepuluh, di dalam Buku Pedoman Penilaian (Buku IIIB Seri Kurikulum SMU Tahun
1975) ditentukan bahwa untuk mengolah hasil tes, digunakan standar relatif,
dengan nilai berskala 1-10. Untuk mengubah skor menjadi nilai, diperlukan
dahulu :
a) Mean (rata-rata
skor).
b) Deviasi Standar (simpangan
baku).
c) Tabel
konversi ke dalam nilai berskala 1-10.
3. Standar
lima
Kembali kepada
Gronlund selain ia mengemukakan penyebaran nilai dengan angka, juga
mengemukakan penyebaran nilai dengan huruf. Gronlund tidak menggunakan huruf E
tetapi huruf F singkat dari Fail
(gagal). Rentangan persentase ini hanya berlaku bagi populasi yang sangat
heterogen. Apabila populasi telah terseleksi akibat kenaikan kelas atau pindah
ke tingkat sekolah yang lebih tinggi, maka golongan F yang ada di ekor kiri
akan berkurang.
BAB III
ANALISIS
A. Perbandingan
Dalam penulisan laporan buku ini,
saya mencoba membandingkan dengan lima buku dengan judul yang berbeda tetapi
masih berkaitan dengan kurikulum dan pembelajaran. Meskipun terdapat beberapa
perbedaan tatapi jika ditinjau dari segi pembahasan kurikulum dan pembelajarannya
pada intinya hampir sama, berikut saya uraikan perbandingan buku yang telah
saya analisis.
1. Buku
Evaluasi pendidikan yang ditulis Drs. H. Daryanto, menyajikan pembahasan
tentang evaluasi pendidikan yang telah disesuaikan dengan silabus kurikulum
nasional, yakni konsep dasar evaluasi pendidikan, klasifikasi tujuan
instruksional, teknik evaluasi, pengukuran ranah kognitif, efektif, dan
psikomotor dalam pendidikan agama Islam, prosedur pelaksanaan evaluasi,
analisis butir-butir instrumen evaluasi, dan interpretasi nilai evaluasi.
2.
Buku Belajar dan Pembelajaran yang
ditulis Dr. Dimyati dan Drs Mudjiono, membahas mengenai proses belajara
mengajar. Beberapa diantaranya dalam buku ini terdapat motivasi belajar,
masalah-masalah dalam pemelajaran dimana guru sebagai pembelajar memiliki
kewajiban mencari, menemukan, dan diharapkan memecahkan masalah-masalah belajar
siswa, konsep dasar evaluasi belajar dan pembelajaran, pembelajaran dan
pengembangan kurikulum, dan lain sebagainya.
3.
Buku yang ditulis Prof .Dr. Made Pidarta
dengan judul Perencanaan Pendidikan Partisipatori Dengan Pendekatan Sistem, membahas
mengenai konsep dasar dalam perencanaan, didalamnya membahas mengenai
pendidikan dan pembelajaran yang baik agar mencapai tujuan yang ditentukan. Kemudian
membahas mengenai prosedur perencanaan yang harus diperhatikan agar prencanaan tersebut mempunyai strategi
dan system yang baik dalam pengelolaan pendidikan.
4. Buku
Kurikulum dan pembelajaran yang ditulis oleh Dr. Oemar Hamalik, membahas
tentang pengertian pendidikan hakikat belajar,
membahas tentang kurikulum dan motivasi belajar. Dalam pendekatan
pembelajaran, buku ini membahas mengenai perkembangan konsep pembelajaran,
model pembelajaran berdasarkan teori-teori pembelajaran kemudian membahas pula
mengenai
strategi belajar
mengajar yang efektiv yang nantinya dapat digunakan saat proses belajar
mengajar dilakukan.
5. R.Ibrahim
dan Nana Syaodih S penulis dalam buku Perencanaan Pengajaran membahas mengenai
: Bagaimana merumuskan tujuan yang akan dicapai, cara apa yang akan digunakan
untuk menilai pencapaian tujuan tersebut, dan materi/ alat apa yang diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan pengajaran. Serta membahas mengenai beberapa bentuk
format perencanaan pengajaran yang semuanya terarah kepada satu tujuan, yaitu
agar terlaksana proses belajar- mengajar yang efesien dan efektif serta relevan
dengan misi dan tujuan instruksional yang di susun dalam kurikulum.
B. Komentar
Untuk mahasiswa
kependidkan, buku Evaluasi Pendidikan yang ditulis oleh Drs. H. Daryanto
memberikan ilham dan pengetahuan mengenai bagaimana cara mengetahui tingkat
pencapaian tujuan pendidikan dalam kurikulum, sehingga para pendidik akan tahu
langkah apa yang harus dilakukan supaya tujuan pendidikan tercapai. Dari segi pembahasaan
tidak berbelit-belit sehingga mudah dipahami dan banyak contoh yang diunggah
dalam buku sehingga memberikan pemahaman yang mendalam bagi pembaca.
BAB IV
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Evaluasi berarti
pengumpulan kenyataan secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam
kenyataannya terjadi perubahan dalam diri siswa dan menetapkan sejauh mana
tingkat perubahan dalam diri pribadi siswa. Evaluasi pendidikan adalah kegiatan
menilai yang terjadi dalam kegiatan pendidikan. Bertujuan melakukan evaluasi
dalam proses belajar mengajar untuk mendapatkan informasi akurat mengenai
tingkat pencapaian tujuan instruksional oleh siswa sehingga dapat diupayakan
tindak lanjutnya.
Buku ini
menyajikan pembahasan tentang evaluasi pendidikan yang telah disesuaikan dengan
silabus kurikulum nasional strata 1 IAIN, yakni konsep dasar evaluasi
pendidikan, klasifikasi tujuan instruksional, teknik evaluasi, pengukuran ranah
kognitif, efektif, dan psikomotor dalam pendidikan agama Islam, prosedur
pelaksanaan evaluasi, analisis butir-butir instrumen evaluasi, dan interpretasi
nilai evaluasi.
B. Penutup
Demikian laporan
buku yang dapat saya sajikan, karena saya masih dalam tahap pembelajaran mohon
maaf bila terdapat kekurangan dalam penulisan maupun penyajiannya. Saya
berharap laporan buku ini dapat bermanfaat untuk kita semua khususnya untuk
saya pribadi. Atas perhatianya saya ucapkan terimakasih.
Wassalamu’alaikum
Wr. Wb
DAFTAR PUSTAKA
Daryanto, Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Rineka
Cipta, 2010.
Syaodih, R. I. Perencanaan
Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2010.
Dimyati. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
Pidarta, M. Perencanaan
Pendidikan Partisipatori Dengan Pendekatan System. Jakarta: Rineka Cipta,
2005.
Hamalik, Oemar. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara,
2001.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar